Keutamaan Puasa Ramadhan (Allah Tidak Menerima Meng-Qadha Puasa Ramadhan, Karena Meninggalkan Puasa Ramadhan Tanpa Udzur)

Puasa adalah menahan diri dari memasukkan sesuatu kedalam perut. Dengan begitu, puasa akan rusak karena malan, minum, atau menghisap rokok. Puasa tidak rusak karena fashd (mengeluarkan sejumlah darah dari urat nadi guna pengobatan)’ berbekam, bercelak, atau memasukkan alat ke dalam telinga. Selain itu, apabila terjadi sesuatu yang tidak disengaja, seperti tertelannya debu jalanan dan masuknya lalat ke dalam ketika berkumur, maka puasa tidak batal selagi tidak berlebihan
Tujuan berpuasa adalah menahan diri dari hawa nafsu, bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Bisa jadi dia telah bergibah, mengadu domba, atau berdusta yang semua hal dapat merusak puasanya. Sebagaimana hadis di atas, bagi orang yang memiliki udzur (halangan), maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu, dan menggantinya di Iain waktu.
Seperti dalam firman Allah swt pada surat al-Baqarah ayat 184 yang artinya :


“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan Puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” 

Meninggalkan Puasa Ramadhan tanpa halangan atau sakit bukan perkara yang kecil, seperti Hadis dari HR. Imam al-Bukhari yang berbunyi :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Barang siapa tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa adanya udzur (halangan) sakit, maka jika ia berpuasa selama satu tahun untuk gantinya (meng-qadha), Allah tidak menerimanya.”
HR. Imam Muslim :
Diriwayatkan dari Humaid ia berkata: “Anas pernah ditanya mengenai puasa Ramadhan saat berada dalam perjalanan, lalu ia menjawab: ‘Kami dulu pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di bulan Ramadhan, namun orang yang berpuasa tidaklah mencela orang yang berbuka, dan yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa.‘” 



Leave a Comment